Gila Belanja Pada Wanita

Tips Umum

Apa yang Anda bayangkan bila mendengar kalimat shop till you drop? Apakah kalimat ini pantulan kebiasaan Anda menghabiskan uang tidak karuan untuk barang tidak penting karena hasrat belanja menggebu-gebu? Anda selalu merasa tegang bila tagihan kartu kredit tiba di akhir bulan? Bila jawabannya ya, ya, dan ya, kemungkinan besar Anda seorang shopilimia atau dalam bahasa serius, Anda terjangkit Compulsive Buying Disorder (CBD).

wanita gila belanjaDosakah belanja itu? Pada dasarnya kebiasaan belanja para wanita adalah hal yang wajar. Apalagi bila mengingat struktur otak wanita yang punya banyak faset, yang sekali melihat bisa tertarik pada banyak hal. Tetapi kadar belanja dan ketertarikan pada aneka barang di antara wanita sangat bervariasi, dari yang ringan hingga yang kronis.

Tipe belanja atau shopilimia ini lebih lazim ditemukan di antara perempuan dibanding dengan mereka yang anti pati dengan tempat keramaian atau ruang coba baju yang sempit. Wanita pecandu bisa dikelompokkan dalam beberapa jenis, tergantung alasan mereka betbelanja :

1. Ada jenis angry shopper, yang belanja di saat marah.
2. Ada tipe premenstrual shopper yang belanja gila-gilaan menjelang haid dan menjadi uring-uringan bila hasrat membelinya tidak terpenuhi.
3. Ada jenis comfort shopper yang suka belanja di akhir pekan untuk menghibur diri setelah bekerja keras selama seminggu.

Apa pun alasannya mereka semua adalah emotional shooper. Emosilah yang mendorong mereka berbelanja. Bukan kebutuhan akan barang-barang tertentu. Seperti pecandu obat atau alkohol, pecandu belanja merasakan kenikmatan yang luar biasa saat berbelanja dan sejenak kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan yang rasional. “Bahkan ada yang hilang ingatan sejenak dan tidak sadar telah menghabiskan begitu banyak uang untuk barang-barang yang tidak diperlukannya,” ujar Christine Lochner, seorang psikolog klinik asal Cape Town, Afrika Selatan.

Namun setelah belanja, shopilimia sering merasa menyesal atau bersalah. Bisa karena uang yang dihabiskannya begitu banyak dan harus berhutang atau karena barang-barang yang dibelinya tidak terpakai sama sekali. Keasyikkan dan kepuasan berbelanja hanya dirasakan menjelang dan saat melakukan pembelian. Menurut hasil studi di Amerika, penyakit shopilimia atau compulsive buying pertama kali ditemukan tahun 1915. Sekitar 80-95%  dari pengidap shopilimia adalah wanita. Jarang sekali ditemukan di kalangan pria. Kecanduan belanja biasanya dimulai wanita  pada usia belasan dan duapuluhan. Mereka cenderung membeli barang, sepatu, dan perhiasan, Namun saat sudah dibeli malah kadang tidak dibuka atau dipakai sama sekali.

Pencetus belanja tak terkendali sangat beragam. Mulai dari perasaan marah, kesepian, atau tidak bisa mengendalikan emosi, hingga hal-hal yang memang mendorong orang untuk berbelanja, seperti diskon besar-besaran atau tatanan etalase toko yang begitu menggoda. Bila banyak uang belanja itu wajar. Tetapi seorang shopilimia, justru belanja saat tidak punya uang. Mereka mengasihani diri sendiri karena begitu banyak tagihan harus dibayar dan merasa menyesal karena gaji tidak cukup untuk bersenang-senang. Belanja digunakan untuk pelarian diri dari realita dan mereka pura-pura mampu membeli apa saja. Rasa kasihan pada diri sendiri itu membuatnya membeli sesuatu untuk menghibur diri.