Emansipasi Wanita Indonesia

Tujuan dari emansipasi bagi wanita tidak jauh dari peran paham feminisme yang sebelumnya muncul dari dunia barat. Amerika adalah negara tempat lahirnya Gerakan Pembebasan Wanita atau Women’s Liberation. Sampai saat ini,  wanita-wanita Amerikalah yang bersuara paling nyaring dalam memperjuangkan persamaan hak wanita. Feminisme liberal yang lahir dari tindak lanjut Gerakan Pembebasan Wanita atau Women’s Liberation mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas.  Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkan wanita pada posisi sub ordinat. Emansipasi wanita adalah perjuangan wanita menuntut hak-nya agar bisa sederajat dengan laki-laki seperti hak untuk bekerja seperti laki-laki, hak berpendapat seperti laki-laki, hak menjabat posisi seperti laki-laki bahkan sampai dengan posisi presiden.

Di negara kita emansipasi wanita merupakan gagasan perjuangan dari R.A. Kartini dan para pemudi pada jaman dahulu. Sampai saat ini, masih didengungkan oleh kaum mudi untuk memperjuangkan hak kesetaraan dengan kaum pria.  Memang kehadiran wanita perlu diperhitungkan dalam kondisi apa pun di zaman modernsasi ini agar terbebas dari belenggu ruang gerak sempit. Dalam salah satu suratnya, Kartini menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat belenggu adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah,  harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa, dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Gerakan emansipasi wanita yang dipelopori R.A.Kartini telah berjasa besar dalam menghantarkan kaum wanita Indonesia menuju mimbar kehormatan dan gerbang kebebasan,  harus dipahami kebebasan bukan berarti kebablasan. Realita melintas ditengah-tengah kehidupan modern, bahwa wanita tidak lagi dipandang sebelah mata, lebih dihargai dan dihormati. Dewasa ini,  telah banyak kaum wanita yang meniti karier,  pendidikan bahkan jabatannya bisa melebihi kaum pria, dan ini memang sudah menjadi tuntutan zaman.

Penurunan Moral Akibat Adanya Paham Feminisme

Degradasi moral wanita terbuka lebar didepan mata, lantaran kesalahan dalan memahami konsep emansipasi. Beberapa hal perlu di realisasikan untuk mencegah degradasi moral akibat paham feminisme. Pertama, memformat  ulang konsep emansipasi wanita. Kekinian, secara umum kaum wanita Indonesia tidak memahami secara tuntas konsep emansipasi wanita.  Bila salah dalam menafsirkan kebebasan, maka akan terjadi pengkhianatan terhadap konsep emansipasi. Perlu diwaspadai banyak wanita menuntut kesamaan hak dengan pria, kesamaan untuk berkompetisi dalam dunia liberal dan terbebas  dari ikatan kultural. Perlu diingat bahwa konsep emansipasi gagasan Kartini sangat bertolak belakang dengan konsep emansipasi kaum feminis. Penanaman prinsip bahwa wanita tidak akan pernah sama dengan pria. Kesadaran wanita akan kodrat, akan mampu mengurangi resiko sebuah persaingan tanpa batas antara pria dan wanita dalam memenuhi peran dan menjalankan pelbagai aktivitas. Sudah kodratnya kaum perempuan tidak bisa disamakan dengan kaum pria. R.A. Kartini dapat menjadi sosok teladan kaum mudi khususnya dan wanita Indonesia umumnya, dalam memperjuangkan hak-hak wanita dipanggung kehidupan hingga mampu berperan lebih banyak.  Sangatlah tepat ungkapan Anis Matta, Dalam buku “Biarlah Kuncupnya Mekar Menjadi Bunga”.  Dalam artian, berikan kesempatan sama bagi wanita untuk belajar mengembangkan pengetahuan dan kemampuan. Sudah sewajarnya bahwa wanita Indonesia memahami emansipasi bagi wanita tanpa terpengaruh dengan paham feminisme yang berkembang di negara Barat.


Advertisement

advert

Share/Bookmark this!

Add comment